Lahir dan besar di lingkungan pedagang, kedua orang tua memiliki profesi sebagai pedagang di pasar tradisional Pasar Lembang dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar.
Saat sekolah dasar, harus berangkat subuh bersama orang tua yang berangkat ke pasar dan bersiap ke sekolah berangkat dari pasar. Bersekolah di SDN 7 Lembang, yang saat itu dikenal sebagai “Sekolah Pasar” karena jarak yang berdekatan dengan pasar dan mayoritas muridnya adalah anak-anak pedagang dari pasar tersebut. Kondisi inilah yang membentuk paradigma berpikir di antara murid adalah “gak usah berpikir sekolah tinggi” nanti juga pasti balik lagi ke pasar (melanjutkan usaha orang tua berdagang).
Setelah lulus sekolah dasar, melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Lembang, sekolah favorit dan unggulan saat itu. Paradigma berpikir mulai sedikit berbeda tentang tujuan menjadi pedagang, karena muridnya heterogen berasal dari berbagai latar belakang. Tetapi dalam pikiran dan hati saya tetap bingung tentang apa yang menjadi mimpi dan cita-cita kedepan.
Tiba menjelang kelulusan, saat sebagian besar murid telah memutuskan akan melanjutkan sekolah sesuai minatnya, saya masih tertegun dan melamun akan melanjutkan kemana. Pak Heri Kusmantoro, guru PJOK yang juga pembina PMR, Beliaulah yang menunjukkan arah hidup pertama saya. Saat itu beliau menyampaikan, “Ted, kamu masuk saja ke SMT Analis Kimia (sekarang SMKN 13 Bandung), otak kamu pasti sanggup belajar disana”. Berbekal kepercayaan beliau saya dan satu orang kawan berangkat untuk mendaftarkan diri ke sekolah tersebut. Walaupun dalam hati masih bimbang di sekolah ini akan belajar apa dan tujuannya mau kemana.
SMKN 13 Bandung, sekolah yang menjadi bagian penting dalam hidup saya. Disinilah saya ditempa sebagai seorang Analis Kimia yang bukan hanya menguasai kompetensi tetapi juga memiliki karakter positif. Slogan pertama saat masuk yang ditanamkan oleh alumni dan guru-guru adalah “Analis Jujur”, dan inilah yang menjadi slogan dalam diri sampai saat ini “jujur”. Kepemimpinan dilatih secara nyata sebagai Ketua ROHIS dan Ketua OSIS, walaupun awalnya hanya sebuah “konspirasi positif” dari kawan-kawan seangkatan. Kemandiri dibentuk sejak dari mulai daftar dan sekolah, semua dilakukan sendiri dan harus jauh dari orang tua. Tanggungjawab, belajar dengan target yang harus diselesaikan setiap semesternya, dan “ancaman” tidak naik jika nilai tidak memenuhi standar.
Lulus dari SMKN 13 Bandung target berangkat ke Kalimantan dan bekerja dibidang pertambangan (sudah berpikir uang untuk membantu orang tua). Sayangnya orang tua tak mengijinkan karena harus mengawasi 3 adik perempuan yang masih perlu pengawasan. Jiwa petualang harus tertunda, akhirnya memutuskan kuliah mengambil Jurusan Kimia di Universitas Pendidikan Indonesia (waktu masuk namanya IKIP Bandung). Mengejar gelar sarjana, dengan target bisa bekerja di lembaga penelitian, seperti LIPI, BPPT, dll.
Jalan hidup kadang berbeda dengan harapan, manusia punya keinginan tetapi Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat makhluknya. Lulus kuliah tertantang untuk membuka usaha, melalui kerja sama dengan salah seorang Dosen di UPI, yaitu Bapak Yaya Sonjaya. Saya dan 4 orang teman berangkat ke Jakarta untuk mencoba peruntungan usaha, membuka cabang penjualan bahan kimia untuk pengolahan air dan limbah. Disinilah saya belajar tentang wirausaha dan karakter wirausaha,
Allah memperjalankan saya ke skenario lain dalam hidup, berawal permintaan bantuan dari Bapak Edi Purwanto agar saya membantu mengajar sebagai guru praktik di SMKN 13 Bandung. Guru praktik yang awalnya hanya mengisi waktu sebelum mendapatkan pekerjaan lain, ternyata menjadi perjalanan panjang dan berakhir menjadi profesi yang dicintai dan dibanggakan. Saya bangga menjadi seorang guru.
Saya tak pernah mengikuti lomba dan kompetisi apapun, karena saat sekolah informasi terkait lomba sangatlah tertutup. Kalaupun ada peserta telah ditentukan karena sekolah punya target menang sehingga yang terbaiklah yang direkomendasikan ikut. Saya termasuk anak yang tak tahu kelebihan diri sendiri, sehingga tak tahu arah tentang perjalan hidup saya. Untungnya saya ketemu guru-guru hebat yang melihat dan menunjukkan kelebihan dan jalan hidup yang harus ditempuh. Dari kondisi ini, saya bertekad untuk menjadi Guru yang mampu membangkitkan mimpi, cita-cita dan harapan murid. Saya ingin berbagi mimpi dan harapan, karena mimpi adalah kompas yang bisa menuntun seseorang tetap ada dalam jalur tujuannya.
SMKN 1 Selat Nasik Kabupaten Belitung, persinggahan selanjutnya setelah meninggalkan SMKN 13 Bandung. Jiwa perantau terbangkitkan karena harus mengajar di Pulau Kecil bernama Mendanau. Hadir disana dengan kondisi yang jauh berbeda dibandingkan dengan tempat pertama mengajar. Siswa dengan motivasi belajar yang rendah; 90% siswa tak memiliki mimpi karena pilihan pekerjaan hanyalah dilautan (nelayan). Jiwa sang pemimpi berontak, hadir sebagai guru, petualangan guru pemimpi dimulai dari sini, menjadi pembimbing “Para pencari mimpi”.
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” (
“Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi sepahit apapun keadaanya.” (
JUJUR ini adalah tulisan yang Luar Biasa Pak Duta
JUJUR, kisah yang luar biasa Pak Duta…👍🏻🙏🏻
Terima kasih pak Duta.